17 Pupuh Sunda Lengkap dengan Jenis dan Contohnya

Pupuh Sunda – Bagi orang-orang yang tinggal di wilayah Jawa Barat atau keturunan Sunda pasti sudah tidak asing lagi dengan karya sastra khas Sunda ini, yaitu Pupuh. Pupuh sendiri adalah karya sastra berbentuk puisi yang biasanya dinyanyikan atau ditembangkeun.

Pupuh sendiri memiliki banyak jenisnya. Kurang lebih terdapat 17 jenis pupuh Sunda dengan ciri-cirinya yang berbeda satu sama lain. Di bawah ini akan dijelaskan 17 jenis pupuh Sunda secara lengkap.

Semoga bermanfaat. 🙂

Jenis-jenis Pupuh Sunda

Pupuh Sunda memiliki 17 jenis yang dibagi ke dalam dua kategori, yaitu Sekar Ageung dan Sekar Alit. Sekar Ageung memiliki 4 jenis pupuh Sunda dan Sekar Alit memiliki 13 jenis pupuh Sunda.

Perbedaan dari kedua kategori pupuh ini adalah pupuh Sekar Ageung dapat dinyanyikan atau ditembangkeun menggunakan lebih dari satu jenis lagu, sedangkan untuk pupuh Sekar Alit hanya bisa dinyanyikan atau ditembangkeun dengan satu jenis lagu saja.

Selain itu, masing-masing jenis pupuh Sunda ini dibedakan berdasarkan guru wilangan, guru lagu, dan watek-nya.

Berikut ini penjelasan dari 17 jenis pupuh Sunda.

Sekar Ageung

1.   Pupuh Asmarandana

Watek:

Menggambarkan rasa asmara (kabirahian), rasa sayang (nyaah), atau cinta kasih (deudeuh asih).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

8-1, 8-a, 8-é/o, 8-a, 7-a, 8-u, 8-a

 

2.   Pupuh Dangdanggula

Watek:

Menggambarkan rasa damai atau kedamaian (katengtreman), kegembiraan (kagumbiraan), keagungan (kaagungan), dan keindahan (kawaasan).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

10-i, 10-a, 8-é/o, 7-u, 9-i, 7-a, 6-u, 8-a, 12-i, 7-a

BACA JUGA:  Kumpulan Puisi Chairil Anwar Terlengkap dan Terbaik

 

3.   Pupuh Kinanti

Watek:

Menggambarkan perasaan yang sedang menanti (nungguan), rasa sayang (kanyaah), dan atau khawatir (deudeupeun).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

8-u, 8-i, 8-a, 8-i, 8-a, 8-i

4.   Pupuh Sinom

Watek:

Menggambarkan rasa senang atau gembira (gumbira) dan rasa sayang (kadeudeuh).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 7-i, 8-u, 7-a, 8-i, 12-a

 

Sekar Alit

1.   Pupuh Balakbak

Watek:

Menggambarkan komedi (banyol) atau lelucon (heureuy).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

15-é, 15-é, 15-é

 

2.   Pupuh Durma

Watek:

Menggambarkan besar hati(gedé haté), rasa marah (ambek), atau semangat (sumanget).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

12-a, 7-i, 6-a, 7-a, 8-i, 5-a, 7-i

 

3.   Pupuh Gambuh

Watek:

Menggambarkan rasa susah (kausah), rasa sedih (kasedih), atau sakit hati (kanyeri).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

7-u, 10-u, 12-i, 8-u, 8-o

 

4.   Pupuh Gurisa

Watek:

Menggambarkan orang yang sedang melamun (ngalamun) atau melamun kosong (malaweung).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a

 

5.   Pupuh Jurudemung

Watek:

Menggambarkan rasa bingung, susah dengan apa yang harus dilakukan (pilakueun).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 8-a, 8-i

 

6.   Pupuh Ladrang

Watek:

Menggambarkan rasa lelucon (banyol) dengan maksud menyindir (nyindiran).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

10-i, 4-a (2x), 8-i, 12-a

 

7.   Pupuh Lambang

Watek:

Menggambarkan rasa lelucon (banyol) tetapi banyol yang mengandung hal yang harus dipikirkan.

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

8-a, 8-a, 8-a, 8-a

 

8.   Pupuh Magatru

Watek:

Menggambarkan rasa sedih, penyesalan (handeueul) oleh perilaku sendiri, atau menasehati (mapatahan).

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

12-u, 8-i, 8-u, 8-i, 8-o

 

9.   Pupuh Maskumambang

Watek:

Menggambarkan rasa kesedihan (kanalangsaan), sedih dengan sakit hati.

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

12-i, 6-a, 8-i, 8a

 

BACA JUGA:  Kumpulan Puisi Chairil Anwar Terlengkap dan Terbaik

10. Pupuh Mijil

Watek:

Menggambarkan rasa bersedih (kasedih) tetapi dengan penuh harapan.

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

10-i, 6-o, 10-é, 10-i, 6-i, 6-u

 

11. Pupuh Pangkur

Watek:

Menggambarkan rasa marah (ambek) yang disimpan/tersimpan di dalam hati atau karena menghadapi tugas yang berat.

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

8-a, 11-i, 8-u, 7-a, 12-u, 8-a, 8-i

 

12. Pupuh Pucung

Watek:

Menggambarkan rasa benci (keuheul) karena tidak setuju hati atau rasa marah (ambek) terhadap diri sendiri.

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

12-u, 6-a, 8-é/o, 12-a

 

13. Pupuh Wirangrong

Watek:

Menggambarkan rasa malu (kawiwirangan) mali oleh perilaku sendiri.

Guru Wilangan dan Guru Lagu:

8-i, 8-o, 8-u, 8-i, 8-a, 8-a

 

 

 

Please rate this

Leave a Reply