“Kakak dari Palestina yah?”

Akhirnya, rasa penasaran Saya terjawab juga. Siang itu, empat anak SDIT Badrussalam menanyakan pertanyaan yang sudah sering (banget) ditanyakan kepada Saya. “Kakak dari Palestina yah?” Seolah pertanyaan itu sudah jadi template bagi orang-orang yang baru bertemu dengan Saya. Dengan opsi bagian kata Palestina bisa diganti dengan Pakistan, Mesir, Arab, India, Bangladesh, dan bahkan… Gaza. Tergantung dengan ‘suka-sukaan’nya orang menebak muka Saya cocok dengan muka bangsa yang mana. :”)

Gara-gara hal tersebut, mengklarifikasi Saya berasal darimana merupakah hal yang paling utama jika baru bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Lupakan nama, umur, mafa1, mifa2, dan relationship status (karena gak perlu ditanya orang-orang udah bisa nebak sendiri Saya ini single atau jomblo). Itu urusan kedua, apalagi tiga. Karena Saya khawatir jika hal ini gak diklarifikasi (secepatnya), bisa saja orang-orang yang mengira Saya pengungsi dari Gaza, Palestina, dan Suriah bertambah banyak. :”)

Bahkan, beberapa hari sebelum insiden pertanyaan dari anak-anak SDIT ini, Saya (harus) merasakan kembali insiden ditanyain “Kamu ada keturunan Arab yah?” ketika sedang memperkenalan diri ke teman-teman Sintesa Angkatan 3. Secara redaksional memang berbeda dengan pertanyaan anak-anak SDIT tersebut, tetapi secara makna tetap ujung-ujungnya bermaksud untuk memastikan apakah muka Saya ini ada kaitannya (langsung maupun tidak langsung) dengan negara Palestina, Pakistan, Mesir, Arab, India, Bangladesh, dan bahkan… Gaza.

Bukan, Saya ini orang Padang. Orang tua asli Padang dua-duanya, tetapi dari kecil udah tinggal di Depok” (ditambah dengan sebuah senyuman tulus). Seolah tak mau kalah dengan pertanyaan template orang-orang, Saya juga sudah menyiapkan jawaban template yang secara umum sudah bisa memuaskan pertanyaan-pertanyaan ‘semena-mena’ dari orang-orang meskipun secara khusus informasi yang Saya berikan dari jawaban tersebut tidaklah tepat 100%. Tapi, daripada harus memperpanjang kalam dengan orang-orang yang sudah memberikan pertanyaan (yang kadang membuat hati akhirnya bertanya-tanya, “Jangan-jangan Aku memang berasal dari Palestina lagi…” “Oh, Aku ini sebenarnya anak siapa…” dan lain-lain) tersebut, lebih baik Saya segera memberi jawaban yang bisa langsung membuat mereka tidak perlu menanyakan pertanyaan-pertanyaan ‘semena-mena’ lainnya.

“Jadi, jawaban yang tepat sebenernya apa dong?”

            Jadi, Saya bukan orang Palestina. Jelas. Saya juga bukan orang Padang. Loh? Kok Bisa?

Kalau Padang yang dimaksud adalah Kota Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat, jelas Saya bukan berasal dari sana. Tapi, Saya berasal dari daerah yang bernama Silungkang. Masih di Sumatera Barat. Ibu dari ‘suku’ Mojao. Bapak dari ‘suku’ Panai Koto Baru (disingkat PKB). Kedua ‘suku’ tersebut masih berada di daerang Silungkang. Oleh karena itu Saya (secara langsung) tergabung dalam Persatuan Keluarga Silungkang (disingkat PKS). Tetapi, karena orang-orang di sekitar Saya (selain keluarga pastinya) tidak familiar dengan daerah yang bernama Silungkang, maka ketika ada yang bertanya Saya berasal dari mana langsung Saya jawab dari Padang. Orang Minang. Selesai perkara.

Belum.

Masih ada satu hal yang mengganjal. Sebenarnya, menjawab Saya berasal dari Padang, Sumatera Barat, terdapat beban yang cukup berat bagi lambung Saya. Kenapa? Terlalu lama sendiri tinggal di Depok, kurang lebih selama hidup ini (baca: 23 tahun), ditambah dengan mengunjungi kampung halaman (baca: pulang basamo) yang bisa dihitung dengan jari tangan sebelah saja, membuat Saya kehilangan salah satu ‘kemampuan’ yang patut dibanggakan sebagai orang Minang.

Lihai memakan makanan pedas.

Ya, Padang, atau orang Minang lebih tepatnya, terkenal dengan streotipenya sebagai orang yang pandai berdagang dan suka makan makanan pedas (dan bersantan). Bisa jadi. Karena memang Kita bisa dengan mudahnya menemukan makanan berembel-embel ‘sambalado eh eh sambalado’ di Kota ini. Bahkan, resep makanan ‘sambalado’ ini sudah berekspansi ke seluruh Indonesia (bahkan dunia) dibawa oleh para perantau dan pengusaha ‘franchise’ rumah makan Padang yang terkadang namanya tak sesederhana harganya.

Lihai memakan makanan pedas.

Lihai.

Pandai.

Jago.

Bisa.

Dan Saya tidak bisa makan makanan yang (terlalu) pedas. Mungkin efek terlalu lama tinggal di Depok, yang notabene mayoritas orangnya berasal dari Suku Sunda, membuat kemampuan lambung Saya untuk menampung makanan pedas nan bersantan menurun drastis. Memang, di rumah Ibu Saya rajin sekali memasak daging balado, ayam balado, ati balado, dan telur balado. Tapi, apalah arti balado jika memakannya ditambah dengan kecap manis, dan nahasnya, dalam jumlah yang banyak sampai-sampai nasi yang tadinya putih berubah menjadi hitam kecoklatan sempurna. Dan nahasnya lagi, ternyata Ibu Saya tiap kali memasak makanan ‘pedas’ selalu memakai cabai besar. Artinya? Ya, tidak sepedas cabai-cabaian yang lain. Makin-makinlah lambung Saya dimanjakan oleh kebohongan duniawi. Ayam balado tapi tak pedas. Daging balado tapi tak membuat peluh bercucuran. Telur balado tapi tak membuat mulut kepanasan.

Lambung Saya pun menjadi ‘lemah’. Tiap makan makanan ‘pedes’ perut Saya pasti ‘mules’.

Saya merasa lambung Saya sudah terakulturasi sepenuhnya dengan budaya kuliner Sunda. Manis-manis manja.

Tapi, setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Mari Kita ambil sisi positifnya. Muka disangka orang Palestina, padahal aslinya orang Minang, tapi lambung cocoknya dengan makanan orang Sunda.

Insya Allah, atas izin Allah, semoga ini pertanda bisa bertemu dengan teman hidup yang sesalehah orang Palestina, pekerja keras seperti orang Minang, dan segeulis mojang-mojang Sunda, manis-manis tapi manja. :p

 

 

 

1Makanan Favorit.

2Minuman Favorit.

 

Please rate this