Isi Perjanjian Tuntang: Sejarah Lengkap Beserta Latar Belakangnya

Perjanjian Tuntang – Pada masa Indonesia masih dijajah oleh negara-negara seperti Belanda, Portugis, Inggris, hingga Jepang, banyak sekali perjanjian dan kesepakatan yang terjadi antara pihak Indonesia dengan pihak penjajah.

Banyak sekali motif, latar belakang, dan jenis dari perjanjian yang disepakati tersebut. Pada artikel kali ini, kita akan membahas salah satu perjanjian yang terjadi ketika masa penjajahan negara Inggris.

Pada masa Inggris menjajah negara kita, Indonesia, pemerintahan dipegang oleh salah seorang yang bernama Thomas Stamford Raffles. Raflles lah yang memegang kekuasaan resmi dan bertindak sebagai gubernur dalam mengelola pemerintahan di kala itu.

 

Tepatnya pada tanggal 11 Agustus tahun 1811, pihak dari Inggris datang ke Indonesia, tepatnya ke kota Batavia sebagai pusat pemerintahan saat itu. Tidak menunggu lama, kedatangan pihak Inggris saat itu memang dilakukan untuk menyerang pihak Belanda yang sedang menjajah negara Indonesia.

Pada akhirnya, kekuasaan Belanda di kota Batavia pun menemui titik akhirnya. Kota Batavia berhasil jatuh ke tangan kekuasaan Inggris. Ketika itu, Gubernur Janssens, pengganti Gubernur Daendels, melarikan diri ke daerah Tuntang, Semarang.

Tetapi, pihak Inggris berhasil mengejarnya. Hingga pada akhirnya Gubernur Janssens mau tidak mau menyerah kepada para pasukan Inggris yang saat itu dipimpin oleh Lord Minto.

Peristiwa tersebut, menyerahnya Belanda terhadap Inggris, akhirnya menjadi sebuah perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Tuntang.

A. Latar Belakang Perjanjian Tuntang

Perjanjian Tuntang dikenal juga dengan istilah Kapitasi Tuntang. Perjanjian Tuntang merupakan perjanjian yang dilakukan antara pihak Belanda dengan pihak Inggris dalam rangka penyerahan kekuasaan.

Penyerahan kekuasaan yang dilakukan antara pemerintahan Hindia-Belanda dan pemerintahaan Inggris (Britania Raya) ini dalam rangka mengesahkan kekuasaan pihak Inggris di tanah Indonesia.

Perjanjian Tuntang sendiri dilakukan di sebuah desa yang berada di wilayah Kabupaten Semarang, yakni Desa Tuntang, Kecamata Tuntang. Perjanjian ini terjadi pada tanggal 11 Agustus tahun 1811.

BACA JUGA:  Isi Perjanjian Giyanti: Sejarah Lengkap Beserta Latar Belakangnya

Desa Tuntang menjadi tempat dilakukannya perjanjian ini karena wilayah ini merupakan salah satu tempat peristirahatan dari para pemimpin dan penguasa dari pihak Hindia-Belanda. Oleh karena itu, Desa Tuntang yang berada di tepian danau Rawa Pening dan juga dilewati sungai Tuntang masih memiliki banyak baral-barak tentara pemerintah Hindia-Belanda.

B. Isi Perjanjian Tuntang

Lalu, apa sajakah isi Perjanjian Tuntang yang mengharuskan pihak Hindia-Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Inggris (Britania Raya)?

  1. Yang pertama, seluruh sumber daya militer dari pihak pemerintahan Hindia-Belanda yang berada di wilayah Asia Tenggara harus segera diserahkan kepada pihak pemerintahan Inggris (Britania Raya).
  2. Yang kedua, seluruh pangkalan militer pemerintah Hindia-Belanda yang berada di luar Jawa secara langsung menjadi bagian dari kekuasaan pihak pemerintah Inggris (Britania Raya). Begitupun juga dengan wilayah Pulau Jawa dan Pulau Madura.
  3. Yang terakhir, seluruh utang dari zaman pemerintahan Hindia-Belanda tidak bisa diakui oleh pihak pemerintahan Inggris (Britania Raya).

Pihak pemerintahan Inggris juga mengangkat Sir Thomas Stamford Raffles untuk mewakili Lord Minto dengan jabatannya sebagai Letnan Gubernur Jenderal.

C. Pasca Perjanjian Tuntang

Setelah Perjanjian Tuntang disepakati, banyak sekali perubahan-perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintahan Inggris (Britania Raya) yang dipimpin oleh Sir Raffles.

Beberapa perubahan kebijakan pasca Perjanjian Tuntang adalah:

1. Bidang Pemerintahan

  • Pulau Jawa dibagi menjadi 18 Karesidenan. Tiap Karesidengan terdapat satu asisten (orang Inggris/Eropa) yang bertugas untuk mengawasi bupati.
  • Sistem peradilan/pengadilan dilakukan dengan sistem juri.
  • Kekuasaan bupati-bupati dikurangi dan dijadikan sebagai bagian dari pegawai pemerintah.

2. Bidang Ekonomi

  • Sistem perbudakan dihilangkan.
  • Pelayaran Hongi dihilangkan.
  • Penyerahan hasil bumi untuk pemerintah dihilangkan.
  • Sistem kerja rodi (yang diterapkan di masa pemerintahan Daendels) dihilangkan.
  • Sistem pajak tanah (land rent system) menjadi sistem yang berlaku. Ketentuan dari sistem pajak tanah adalah para petani diharuskan untuk menyewa tanah yang akan dipakai kepada pemerintah. Nantinya harga sewa berdasarkan dengan ukuran dan keadaan tanah yang akan disewakan.

3. Bidang Pendidikan

  • Kebun Raya Bogor mulai dibangun. Nama Sir Raffles pun dijadikan nama salah satu bunga bangkai, yaitu bunga Rafflesia arnoldii.
  • Menulis buku sejarah yang berjudul “History of Java“. Buku yang berisi tentang sejarah kebudayaan serta alam pulau Jawa.
  • Gedung Harmoni dibangung untuk kepentingan dan kebutuhan lembaga ilmu pengetahuan Bataviassch Genootshap.

One Response

  1. 33Stevie 16 May 2017

Leave a Reply